Panduan Menjadi Fujoshi yang Bermartabat

Deko menuliskan pandangannya terhadap fujoshi dan memberikan sedikit panduan untuk memperbaiki pandangan masyarakat umum terhadap kaum fujoshi dan wibu pada umumnya.

Latar Belakang

Baru-baru ini kaum wibu, khususnya kaum fujoshi, dihebohkan dengan liputan khusus sebuah program berita di salah satu stasiun televisi swasta. Liputan tersebut menyoroti fenomena penggemar komik percintaan sesama jenis, atau yang lebih dikenal sebagai fujoshi. Sedikit mengoreksi, kalau yang dimaksud adalah penggemar komik percintaan sesama jenis antar laki-laki, maka sebutan fujoshi itu benar.

Dari kabar burung yang saya dengar, beberapa kaum fujoshi pun resah dan khawatir dengan adanya liputan tersebut. Ditambah lagi bagi orang awam, mereka tentu akan sangat terkejut dengan bahasan di dalam liputan tersebut. Ada beberapa fakta yang mungkin mengagetkan bagi sebagian orang, sebut saja seperti konten di dalam grup fujoshi itu banyak yang vulgar, anggota grupnya saling berbagi judul komik BL (Boys Love) atau kartun yaoi, atau percakapan di dalam grup yang sangat berbau porno (tentu saja soal percintaan antar lelaki). Well, saya sendiri sudah enggak kaget karena sudah cukup lama ada di komunitas seperti ini (komunitas wibu ya, bukan fujoshi). Sudah lumrah kalau ada satu-dua teman cewek wibu yang seperti itu.

Saya sih bodo amat sebenarnya. Kepo enggak, tapi kadang ada nongol satu-dua pos dari teman saya yang sudah mengarah ke situ. Kalau sudah enggak nyaman, tinggal blok semua pos dari dia saja, selesai masalah. Tapi yang bikin kaget, saya baru tahu (dari liputan tersebut) kalau ternyata anggota grup fujoshi yang seperti itu kebanyakan justru anak di bawah umur yang masih sekolah! ANJIRRR!!! Yang bikin lebih kaget lagi, enggak cuma jadi penikmat, beberapa diantaranya (anak-anak sekolah ini) bahkan jadi pencipta komik BL. BL yang dimaksud tidak terbatas hanya kisahnya saja, tapi sudah ke arah porno alias adegan “wikwikwik”.

Terkejoeth!!!