Panduan Menjadi Fujoshi yang Bermartabat

Pandangan Pribadi

Harus saya akui, lingkungan pertemanan saya tidak luas. Mungkin bisa dikatakan kalau saya termasuk orang yang kuper. Selama ini teman yang saya maksud pernah membagikan pos-pos sensitif semacam itu, ya memang bukan anak sekolahan. Beberapa masih kuliah dan bahkan ada yang sudah bekerja. Jadi, wajar saja kan kalau orang dewasa punya hobi yang seperti itu?

Masalahnya, kalau sampai hobi seperti ini digandrungi anak yang belum cukup umurnya, ya tentu itu enggak wajar. Herannya lagi, anak-anak semacam ini justru dengan bangganya di media sosial menyebut dirinya sebagai seorang fujoshi, seakan itu adalah suatu predikat yang membanggakan. Asal tahu saja, di Jepang sendiri sebutan fujoshi itu memalukan dan akan membuatmu dipandang rendah oleh masyarakat. Sama halnya seperti sebutan NEET atau hikki.

Jangan ditiru ya, adik-adik.

Anak di bawah umur menggemari komik bertema dewasa jelas-jelas sudah salah. Ini sampai ada yang jadi kreatornya segala! Celakanya lagi, karena masih labil dan belum dewasa, mereka ini sering mencampuradukkan fantasi mereka ke dalam dunia nyata. Lihat cowok lagi berdua sama temannya saja sudah berkhayal yang tidak-tidak. Cowok nepuk pundak temannya saja sudah dijadikan “kapal” atau otp otp-an. Ckckck ….

Semua berubah jadi aneh kalau sudah ada bumbu imajinasi liar enggak karuan.