Panduan Menjadi Fujoshi yang Bermartabat

Kebebasan Berekspresi dan Akar Permasalahan

Saya adalah orang yang mendukung kebebasan berekspresi. Saya pun enggak mau menghakimi hobi orang lain selama tidak merugikan dirinya maupun orang di sekitarnya. Sebagai orang yang pernah baca BL dan pernah nonton kartun begituan, saya bisa mengerti dan memahami kenapa cewek suka sama BL. Ada perasaan aneh, geli, penasaran, deg-degan yang dirasakan cewek ketika mengikuti serial BL. Alasan utamanya sudah jelas, kita enggak akan menemukan yang seperti itu di dunia nyata. Sama halnya kenapa kartun bertema isekai masih laris bak kacang goreng. Mungkin banyak dari kita yang merasa kecewa dengan dunia nyata dan ingin melarikan diri ke isekai, sebuah dunia di mana kita bisa menjadi sosok pahlawan. Kok jadi ngomongin isekai, sih? Lanjut ke pembahasan.

Saya sendiri sadar betul kalau menyukai BL itu sangat tidak lazim. Karena itu, selama ini saya hanya menikmatinya sebagai sebuah bentuk hiburan belaka, tidak lebih. Saya pun akan merasa geli bila melihat dua orang laki-laki bersikap “tidak wajar” di depan umum. Hal yang sama juga berlaku bagi lapisan kaum wibu lainnya. Salah satu penyebab utama masyarakat masih memandang kaum penyuka kartun dan komik sebagai kaum yang kekanakan, ya karena sering mencapuradukkan fantasi dengan dunia nyata. Ketika fantasi sudah berlebihan karena ketagihan, ada kecenderungan untuk menempatkan fantasi itu ke dalam dunia nyata. Maksudnya, enggak bisa membedakan mana yang fantasi dan mana yang bukan. Dia membayangkan keadaan di dunia nyata seolah-olah seperti di dalam komik atau kartun. Batas antara fantasi dan kenyataan pun terasa samar.

“Dasar kaum wibu menjijkkan!” ujar Paulina dalam hati.

Takutnya saya adalah ketika para fujoshi ini sudah “melumrahkan” interaksi antar laki-laki yang tidak wajar, bahkan justru didukung. Saya enggak mau banyak bicara soal ranah ini, sensitif soalnya. Di sini yang ingin saya soroti adalah kaum fujoshi di bawah umur. Selain berpotensi sangat besar jadi alay dan menggelikan, bukan tidak mungkin perkembangan psikologisnya bisa terganggu karena sudah terpapar hal seperti ini (pornografi) di usia yang belum saatnya. Apalagi kalau enggak ada bimbingan dan pengawasan dari orang dewasa. Cilaka! Berharap saja supaya dia segera sadar dan kembali ke jalan yang lurus dengan sendirinya.

Are you sure, Girl?