Panduan Menjadi Fujoshi yang Bermartabat

Panduan Jitu Menjadi Fujoshi yang Bermartabat

Nah, bagi para kaum fujoshi atau kalian yang punya teman fujoshi, mungkin akan sulit kalau harus langsung meninggalkan kegemarannya begitu saja. Menurut saya, sah-sah saja menekuni hobi apa pun selama kamu memang mampu, suka, tidak merugikan diri sendiri dan orang lain, serta layak menekuninya.

Dari ulat berubah menjadi kupu-kupu yang sehat.
Dari fujoshi bisa menjadi gadis populer.

Maka dari itu, kali ini saya ingin memberikan pandangan baru mengenai panduan menjadi fujoshi yang bermartabat. Lo, memang fujoshi ada martabatnya? Ya ada, dong. Setiap manusia ya ada martabatnya. Memang fujoshi bukan manusia, apa? Pikirmu fujoshi itu spesies khusus, gitu? Jangan terlalu serius, ah.

Berikut adalah panduan menjadi fujoshi yang bermartabat menurut saya. Perlu diingat dan diperhatikan bahwa tulisan ini murni berasal dari pandangan penulis semata dan panduan di bawah ini belum terbukti atau pun teruji secara ilmiah keampuhannya. Oh iya, panduan di bawah ini mungkin juga berguna bagi kaum wibu yang ingin “terlihat” normal dan bisa diterima di masyarakat.

Sadar Diri
Tahap terpenting untuk menjadi seorang fujoshi yang bermartabat adalah menyadari bahwa kegemarannya tidaklah lazim. Masyarakat dan orang-orang sudah pasti akan mencibirmu kalau ketahuan menggemari kisah percintaan sesama jenis (apalagi kalau sudah porno). Kamu harus menyadari, mengakui, dan menerima kenyataan tersebut. Bila sudah melewati tahap ini, maka kamu siap untuk menjadi seorang fujoshi yang bermartabat.

Pisahkan Fantasi dengan Kenyataan
Setelah kamu sadar diri, langkah selanjutnya adalah memisahkan fantasi dengan kenyataan. Mungkin akan terasa berat dan sulit pada awalnya. Tapi harus diingat, semua yang kamu baca dan tonton itu fiksi, tidak nyata, dan buatan manusia. Beberapa bahkan ada di luar batas kewajaran dan akal sehat yang bisa diterima manusia. Ya, saya tahu kalau kenyataan memang menyebalkan, tapi begitulah adanya. Kamu mungkin merasa lega dan senang dengan kisah-kisah di dalam komik yang kamu baca atau kartun yang kamu tonton. Tapi ingatlah, kamu mungkin bisa lari, tapi tidak bisa sembunyi.

Menempatkan Diri di Posisi yang Tepat
Apabila sudah memahami konsep untuk memisahkan antara fantasi dengan kenyataan, waktunya menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kamu boleh saja tetap menjalankan kegemaranmu, tapi posisikan diri di saat yang tepat. Cukup bawa kegemaranmu di dalam komunitas (yang sehat dan terkendali) dan hanya di dalam grup itu saja. Tidak perlu pembahasan mengenai kegemaranmu sampai dibawa ke dunia luar. Kalau dibawa keluar? Terima saja kalau orang lain mencibirmu. Tentunya kamu tetap ingin menjalankan kegemaran namun tetap “bermartabat”, bukan?

Keep It for Yourself
Apa sih sok-sokan Inggris segala? Maksudnya, kamu boleh dan bebas menjalankan dan menekuni kegemaranmu, tapi cukup buat dirimu sendiri. Istilahnya sih, enggak usah terlalu gembar-gembor kalau kamu adalah seorang fujoshi dan seolah kamu bangga menjadi seorang fujoshi. Dunia enggak perlu tahu kalau kamu adalah seorang fujoshi. Ingat, kamu justru terlihat menggelikan ketika dengan bangganya menggunakan sebutan tersebut di depan orang lain.

Boleh Berbagi, Asal ….
Melanjutkan panduan di atas, bukan berarti kamu enggak boleh saling berbagi dengan teman-temanmu, tapi usahakan kamu membaginya dengan orang yang tepat. Maksudnya, berbagilah dengan orang yang cukup umur atau orang-orang yang memang layak dan pantas untuk mengonsumsi dan menggemari hal tersebut.

Selama tahu batas dan bisa menempatkan diri, tekuni dan jalankan hobimu. Apa pun itu selama tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Ingat, selalu pakai akal sehat di mana pun kamu berada dan kapan pun itu.

Disclaimer
Penulis bukanlah psikolog maupun psikiater. Tulisan ini murni bersifat opini dan semata-mata berasal dari pandangan dan pengalaman pribadi penulis. Tidak ada maksud menyudutkan dan menghakimi pihak mana pun dalam tulisan ini. Penulis tidak bertanggung jawab atas perasaan tersinggung dan sakit hati setelah membaca tulisan ini.