Impresi Awal — Mix: Meisei Story

Deko menuliskan impresi awalnya setelah menonton anime yang menjadi salah satu anime favoritnya ini. Penulis akan berusaha untuk meminimalir bocoran cerita.

Bosan dengan anime bertema dunia paralel alias isekai, iseng-iseng gue cek anime ini. Ternyata anime ini masih ada “hubungan” dengan anime bertema olahraga bisbol, Touch, yang pertama kali tayang pada musim panas tahun 1985. Bukan sekuel, tapi istilahnya masih satu dunia, jadi kalau kalian gak pernah nonton Touch, gak masalah langsung ngikutin anime ini karena cerita dan karakternya benar-benar baru. Cuma setting-nya saja yang minjam. Bisa gue bilang setting-nya 60% mirip sama Touch. Tokoh utamanya kakak-adik, ceritanya tentang seputar masa muda, cinta, dan tentu saja, bisbol. Bahkan nama sekolah dan peliharaan pun sama.

Kalau anime sport biasanya diawali dengan masuk SMA atau SMP, atau murid pindahan, cerita di anime ini dimulai dengan bagian nostalgia pada anime Touch, kemudian dilanjutkan dengan narator yang mengenalkan setting pada penonton sambil menceritakan masa kecil tokoh utama kita. Dan benar saja, tokoh utama kita memasuki tahun ajaran baru. Bukan masuk SMA atau SMP, tapi mereka menginjak kelas dua SMP. Oke, di sini sudah mulai kelihatan agak “beda” karena kita benar-benar diceritain kisah mereka dari awal banget dan itu pun bukan setting utama ceritanya. Hahaha ….. Lanjut.

Kita punya tiga tokoh utama di anime ini yang dikenalkan oleh mbak narator sebagai berikut.

Karakter utama nomor satu.
Karakter utama nomor dua.
Karakter utama nomor tiga.

Lihat desain karakternya? Yap, klasik dengan telinga besar dan mata yang lonjong. Kalau di anime Fruit Basket dan Dororo gambarnya sudah diganti jadi sangat kekinian, di anime ini gambarnya tetap terasa klasik. Itu keunikan nomor dua buat gue. Selain itu, setting karakternya juga terasa unik. Saudara yang usia dan hari ultahnya sama, tapi bukan kembar. Kalian akan dikasih penjelasan soal itu di beberapa episode berikutnya.

Anime sport pasti gak lupa nyelipin komedi. Entah dari segi karakter yang konyol, atau situasi nervous yang bikin karakternya bertingkah bodoh. Tapi di sini gue bisa jamin komedinya itu beda. Gak bikin ngakak terpingkal-pingkal sakit perut sih, tapi cukup buat bikin senyum simpul dan terasa pas karena gak lebay dan berlebihan.

Animeception dong ….

Itu bukan sekali, tapi beberapa kali kayak gitu. Poster atau cover komik jadi ajang promo anime sendiri. SIAPPP. Gue juga sempat ngakak banget di bagian “sarkas” entah di episode berapa. Ada juga cara “licik” buat maksain teman kita biar mau nemenin kita jalan. Terus ada juga waktu karakter utama kita lagi di depan mini market dengan plang nama ….

You get it? Get it?

Humor kayak gini tuh gak akan bikin ngakak, tapi lucu aja gitu. Oke, selanjutnya yang bikin saya gemesh adalah … Yuki Kaji. Gue sama sekali gak ngefans sama dia, tapi bukan berarti gue benci sama doi. Mungkin karena lumayan mainstream aja dia. Kenapa Yuki Kaji? Dia amat sangat cocok super ngepas ngisi suara Bapak Touma. Karakternya yang santai banget dan polos itu gak tau kenapa masuk dan lucu. Apalagi bagian ini ….

Suaranya lucu banget, asli. Tapi kurang “kekanakan”, sih.

Ngomong-ngomong soal karakter, gue suka banget karena karakternya dibangun dengan kuat. Tidak seperti anime sport lain yang karakternya serius banget atau konyol banget, di sini mereka itu santai banget pembawaannya dan gak melawak. Gue bisa bilang lebih baik kalian menganggap ini anime slice of life dengan balutan olahraga karena meskipun tentang bisbol, tapi pembawaan ceritanya itu cukup pelan. Pelan tapi benar-benar bisa dinikmati banget dan ada cerita yang dibangun perlahan di balik tempo yang lambat itu. Beberapa pertanyaan awal pun terjawab satu-satu walau cara menjawabnya itu enggak “JRENGGG” ala-ala scene sinetron Bollywood.

Kesimpulannya, gue suka banget sama anime ini. Beneran terasa segar, menghibur, plotnya rapi, karakternya juga kuat. Lagu pembuka dan penutup yang kontras dengan tema sport, terutama lagu endingnya itu sih, bikin betah mantengin lagunya di tiap episode. Gue sebenarnya mengharapkan happy ending bagi kedua protagonis dan jangan sampai nasib mereka kayak protagonis di anime Touch. Tapi gue optimis sih karena kalau di anime lawas protagonisnya rebutan cewek, di sini mereka punya “kapal” masing-masing. Tentu saya juga sudah punya kapal sendiri untuk mereka. Hahaha ….

Saking sukanya, kayaknya gue bakal bikin review mingguan buat anime ini sama satu anime lagi. Hitung-hitung bikin diary gitu selama nonton anime. Mudah-mudahan ada waktu ya ….

P.S. Gue pikir bakal 50-an episode, ternyata cuma tayang dua cour. Yahhh ….