Melupakan Sang Mendiang Mantan

An honest opinion from Deko on how to move on your life and leave your past behind.

Kalau kalian mengikuti Yukisub, pasti tahu kalau di musim ini Yukisub cuma ngerjain “Yesterday wo Utatte”. Meski diangkat dari komik lama, ceritanya masih sangat relevan dengan lika-liku percintaan anak zaman sekarang. Suka sama orang, malu bilangnya, akhirnya mutusin buat nembak si doi, terus ditolak karena ternyata doi belum bisa move on. Benar sekali, gue bicara soal Uozumi Rikuo yang pernyataan cintanya ditolak oleh Morinome Shinako.

Oke, biar gue kasih kalian gambarannya sedikit kalau kalian enggak nonton kartunnya. Seperti yang gue bilang di atas, Rikuo memendam rasa sama Shinako dari zaman kuliah sampai sekarang. Di awal cerita, Uozumi yang masih “galau” soal hidupnya cuma kerja sambilan di mini market, sedangkan Shinako si pujaan hatinya jadi guru SMA. Meski sempat merasa rendah diri, akhirnya Rikuo pun nembak Shinako. Cintanya ditolak, dan belakangan Uozumi tahu alasannya dari anak SMA tetangganya Shinako, Hayakawa Rou. Si Rou ini punya abang, namanya Yuu (kalo gak salah ingat). Ternyata, Shinako dulunya suka sama Yuu, tapi doi sudah meninggal karena sakit. Kesimpulannya, Rikuo ditolak karena Shinako belum bisa ngelupain cintanya, Yuu.

Jus apa yang enggak enak? Jus be friend.

Dari situ, gue mau sedikit cerita soal pandangan gue kalo gue jadi Shinako. Perlu diingat, gue nulis artikel ini pas ceritanya baru tayang delapan episode, jadi mungkin karakter Shinako bakal berubah ke depannya. Sebagai seorang (yang ngakunya) cewek, gue kurang suka sama sikapnya Shinako. Dia nolak Rikuo, bilang mending “temenan aja” tanpa memberikan alasan yang jelas dan Rikuo sendiri juga bilang kalau dia bakal nunggu sampe Shinako sudah siap (setelah dia sudah tahu alasannya). Sebenarnya gue agak kesal sama Shinako karena “masih ngasih tanda baik” ke Rikuo meski dia sudah menolaknya.

Kalau jadi Shinako nih, gue bakal terus terang dan bilang kenapa gue belum bisa nerima cintanya Rikuo. Bukan cuma diam dan malah si Rikuo-nya tahu dari orang lain! Kalau memang belum siap buat menjalin hubungan, ya bilang aja. “Gue belum bisa nerima cinta lo, tapi selama ini gue nyaman banget temenan sama lo. Gue masih belum bisa melupakan dia dan gue gak mau malah nanti melukai lo karena jadi pelarian gue doang,” kira-kira gitu yang bakal gue ucapkan. Memang terdengar munafik sih, tapi kalau kenyataannya begitu, ya gue akan bilang yang sejujurnya.

Oke, sekarang mengenai sang mendiang mantan. Mungkin gue salah ingat atau gimana, tapi kayaknya Shinako dan Yuu selama ini belum pernah jadian, deh. Jadi secara teknis, Yuu itu gak bisa disebut sebagai mantannya Shinako. Kalau disebut gebetan, sudah jelas, sih. Mbak Shinako ini seolah terjebak di masa lalu. Di hari kematiannya Yuu, di saat itulah waktu serasa berhenti baginya. Padahal, yang namanya hidup, ya jalan terus. Mungkin dia terlalu menyalahkan diri sendiri dan sudah menaruh hati dan perasaan yang begitu dalam sama si Yuu ini. Atau bisa juga karena di dalam lubuk hatinya, dia masih belum bisa mengikhlaskan kepergian Yuu.

Pikirnya sih dia sudah move on, ternyata belum.

Gue pernah baca kalau ada lima tahap dalam berduka (five stages of grief) menurut Mbak Elisabeth Kübler-Ross, yaitu penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Tidak semua orang akan mengalami kelima-limanya dan urutan kemunculannya bisa saja berbeda. Tapi menurut pengamat beliau, umumnya seperti itu. Akan coba gue jelaskan sedikit sebisanya.

Tentu saja gambar ini saya comot dari google.

Ketika mendengar kabar mengenai kematian seseorang yang dicintai, pertama kita akan menyangkalnya alias tidak menerima kenyataan tersebut dan terus mencari alasan. Setelah kita tahu bahwa dia memang sudah pergi untuk selama-lamanya, kita akan marah, baik itu pada diri sendiri, pada orang lain, pada sang mendiang, maupun pada Tuhan karena merasa semuanya tidak adil dan begitu mendadak. Lalu tahap ketiga, tawar-menawar. Masih belum bisa menerima kenyataan sepenuhnya, kita jadi menyalahkan diri sendiri dan merasa menyesal. Akhirnya, kita pun merasa depresi karena tidak bisa menerima kenyataan. Kalau pada akhirnya kita bisa ikhlas, barulah kita merasa “lepas” alias menerima kenyataan tersebut.

Singkatnya, untuk bisa melupakan sang mendiang mantan dan melanjutkan hidup, kita harus menerima kenyataan bahwa dia sudah enggak ada di dunia ini lagi. Kita harus mengikhlaskan kepergiannya, mendoakan yang terbaik baginya, dan lebih semangat dalam menjalani hidup kita. Percuma saja menyesali yang sudah terjadi di masa lalu, lebih baik bangkit untuk menjalani hidup kita karena bagaimana pun, kita semua pantas dan layak untuk bahagia. Hiduplah dengan jujur apa adanya dan jadilah diri sendiri.

Gue rasa segitu saja dulu untuk cuap-cuap enggak berfaedah ini. Kalau kalian punya kritik, saran, dan usul, silakan cari @Ketua MPR di kanal Discord Yuki Fansub.

Ingat, karena kita semua layak untuk bahagia!