Review Movie: Promare

Not a gay movie, if you asked me.

Sesuai judul artikel, gue mau bahas film yang sebenarnya sudah lama gue lirik. Berawal dari lihat merchandise di online shop, gue pun “menemukan” Promare ini. Saat itu belum masuk ke radar buat ditonton, tapi beberapa lama kemudian begitu gue lihat ada nama Sawano Hiroyuki, mau tidak mau ya jadi tertarik juga. Selain itu, nama studio Trigger juga menjadi salah pemicunya, ya, sesuai namanya WKWKWK.

Hal pertama yang langsung bikin gue cengo adalah warna. Entah itu warna atau gaya gambar lebih tepatnya. Pokoknya warna di movie ini tuh, beda. Rasanya kayak bukan movie anime ala Jepang, gitu. Di awal-awal emang kurang nyaman di mata, tapi begitu sudah terbiasa ya, malah bagus.

Pemandangan kota.

Di adegan awal, kita pun langsung dikasih musik yang sukses naikin hype dan diperlihatkan sama situasi kota yang modern dengan warna-warna yang nyaman. Tapi begitu di bagian yang menonjolkan aksi, warnanya langsung terlihat berbeda. Suara di bagian adegan aksi pun terasa cukup nendang dan lagu pengiring gubahan Sawano Hiroyuki terbukti sangat ampuh buat naikin excitement saat menonton adegan aksinya.

Buat yang gak suka anime “kaleng”, tenang saja. Ceritanya bukan berfokus ke kaleng, kok. Lebih tepatnya cuma jadi armor doang. Tapi karena gue gak masalah dengan anime “kaleng”, ya rasanya asyik aja pas ditonton. Pertarungannya terasa cukup menegangkan dan diikuti dengan gerak kamera yang keren. Di sini gue enggak mau cerita terlalu banyak biar gak spoiler. Ngomongin soal armor atau zirah, di sini ada satu elemen yang gue suka banget. Mereka naruh elemen Jepang kuno di setting yang sudah modern.

Matoi Gear.

Aksinya sudah oke, musiknya juga nendang, terus apa lagi, ya? Oh, ceritanya. Menurut gue ceritanya lumayan oke. Elemen sains fiksi di sini enggak terlalu canggih yang sampe levelnya enggak bisa dipahami otak. Masih sangat enak buat dibawa mikir, kok. Terus soal plot-nya, gue rasa lumayan generik dan gak sampe bikin “rahang lepas”, tapi cukup memberi kejutan di beberapa bagian. Oh, di sini juga diselipkan beberapa humor ringan yang bikin tertawa kecil.

Kayaknya bukan studio Trigger deh kalo gak ada font kayak gini.
Jangan tanya gue kenapa dia gak pake baju.
Kenapa posenya bisa muncul di kontrol panel, coba?

Kesimpulan

Singkatnya, film yang satu ini sangatlah menghibur buat gue yang sudah lama enggak lihat kartun dengan adegan aksi yang seru dan cerita yang pas. Studio Trigger dengan gaya khasnya benar-benar memberi jiwa di film ini dari segi visual. Untuk gubahan musik, nama besar Sawano Hiroyuki memang enggak mengecewakan. Durasi yang nyaris menyentuh 120 menit pun enggak terasa menjemukkan buat gue. Kalau dikasih skor, ya 8/10 dari gue.

Peringatan buat kalian gak kuat sama “bromance”, mending jangan ditonton, deh. Enggak, ini filmnya no homo, tapi buat beberapa yang sudah nonton, mungkin mereka punya pendapat lain. Segitu saja dulu buat ulasan ala-ala gue kali ini. Sampai jumpa di artikel berikutnya.

Nih, pemanis buat kalian.