Diary Nonton — Kakushigoto

Akhirnya ada kartun slice of life yang bagus.

Kali ini gue mau menulis impresi gue setelah selesai menonton Kakushigoto, kartun bertema slice of life yang tayang di musim semi 2020. Sebenarnya gue mulai nontonnya dari pertengahan tayang, bukan dari awal saat kartunnya pertama kali tayang. Awalnya gue enggak punya ekspektasi yang macam-macam, tapi dari episode pertama ternyata langsung bikin penasaran. Bahkan intro lagu pembukanya yang dibawakan oleh flumpool itu saja langsung terngiang-ngiang di kepala waktu pertama kali gue dengar.

Menceritakan tentang seorang bapak yang bernama Kakushi Goto yang berusaha mati-matian merahasiakan pekerjaannya sebagai komikus dari putrinya, Hime Goto. Di episode pertama saja, kita sudah diberi banyak “plesetan”. Kalian bisa lihat plesetannya di Wikipedia saja. Sekilas terlihat seperti slice of life pada umumnya, memperlihatkan kasih sayang seorang bapak pada anaknya, lalu rutinitas dari pekerjaan si bapak. Selain itu, ada juga beberapa kekhawatirannya sebagai seorang bapak mengingat dia membesarkan putrinya seorang diri.

Hiroshi Kamiya yang berperan sebagai Kakushi benar-benar membawakan karakter si bapak dengan sangat baik. Suaranya bisa kalem dan terasa begitu bersahaja waktu membawakan monolog dan berbicara pada putrinya. Terasa seperti benar-benar seorang bapak. Tapi waktu adegan komedi, teriak-teriaknya juga terasa lucu dan bikin gue tersenyum tipis. Karakter putrinya, Hime, diperankan oleh Rie Takahashi. Seiyuu yang benar-benar lagi naik daun ini berhasil menunjukkan kepolosan anak umur sepuluh tahun dan suaranya terasa begitu manis, cocok dengan karakter anak umur segitu.

Sudut pandang penceritaan utamanya berasal dari si bapak. Tapi di episode akhir, hampir seluruh episode diceritakan dari sudut pandang putrinya. Hal ini sangat wajar mengingat gaya penceritaannya yang … tidak biasa. Di sebelas episode awal, kita selalu diberi “tema” baru yang menceritakan kekhawatiran Kakushi akan putrinya sambil menyembunyikan rahasianya. Tapi di setiap akhir episode, kita diberi potongan adegan yang berasal dari masa depan yang menjadi “teka-teki” dan sukses bikin penontonnya penasaran setiap minggu. Semua teka-teki tersebut untungnya dijawab hingga tuntas di episode akhir. Kalau jeli saat menonton, kita bisa mendapat beberapa “petunjuk” mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Waktu nonton episode terakhirnya, gue beneran berkaca-kaca sampai beberapa kali menitikkan air mata saking terharunya. Kalau diingat-ingat, setiap episodenya itu terasa hangat dan benar-benar menunjukkan kasih sayang si bapak. Gue juga cukup kaget dengan beberapa fakta yang diungkap di episode terakhirnya. Terlepas dari itu, unsur komedinya tetap ada, tapi enggak sampai merusak ceritanya. Kayak bagian yang “sinetron banget” itu, kalau dipikir ya lucu dan enggak mungkin banget, tapi justru itulah konflik akhirnya. Gue juga suka banget dengan interaksi para asistennya yang menurut gue perannya cukup penting dari awal sampai akhir cerita, sama editornya yang super amat nyebelin itu.

Intinya ya, kartun yang satu ini sangat amat bagus sehingga layak mendapat skor 8.05 di MAL. Slice of life yang sekilas terlihat ringan (bahkan remeh), komedi yang tidak biasa dengan banyak plesetan di sana-sini dan mengangkat suka-duka profesi komikus lengkap dengan berbagai “stereotip”-nya, tapi ada teka-teki yang tidak sederhana di baliknya. Selama nonton dan menunggu tiap minggu, gue selalu dibikin penasaran dan bertanya-tanya setiap akhir episodenya dan gue puas banget dengan resolusinya di episode terakhir.

Semoga semakin banyak kartun slice of life yang bagus dan enak buat ditonton kayak kartun ini.