Cicip Rilisan — [Saibou-Durandal] Uzaki-chan wa Asobitai! – 01

Sebenarnya sama sekali enggak ada niat buat nonton kartun satu ini karena “jualannya”, tapi karena saya sedang iseng ingin mencicip rilisan warung lain, gas sajalah!

Dari lubuk hati yang terdalam, bukannya benci menonton rilisan fansub Indonesia, hanya saja saya memang lebih senang menonton rilisan dengan takarir bahasa Inggris. Saya sebenarnya belum pernah mencicipi rilisan warung ini dan mengingat ceritanya yang ringan bertema kehidupan sehari-hari (atau komedi romantis), seharusnya ini bukanlah serial yang sulit untuk dikerjakan. Sekali lagi, semua bahasan di sini murni bersifat subjektif dan berasal dari sudut pandang saya semata.

Typeset

Typeset sudah cukup bagus, tapi di sini saya mau kasih komentar atau tanggapan terkait dengan penerjemahannya.


Seluruh dialog tidak menggunakan honorifik, tapi kenapa terjemahan judulnya pakai honorifik? Dihilangkan pun tidak akan menjadi masalah harusnya.

Penulisan nama tidak dibalik. Good.

Kalimat ini bisa juga diterjemahkan menjadi “Mahasiswa Tingkat Kedua” atau “Mahasiswa Tingkat Dua”.

Mungkin terlalu sulit atau terlalu kecil teksnya? Entahlah.


Bukan terjemahan typeset, tapi terjemahan dialog. Dialognya pakai kata “次回” (dibaca: jikai) yang kalau diterjemahkan literal artinya memang “lain kali”, tapi rasanya di kalimat ini maksudnya “episode selanjutnya”, deh. Selain itu, kalimat ini memang terasa kurang pas dengan konteksnya.

Kapitalisasi, Tanda Baca, dan Saltik


Kata sapa harus menggunakan huruf kapital. Jadi yang benar harusnya, “Mohon bimbingannya, Senior!”. Di rilisan ini, kata sapa “senior” semua tidak dibuat kapital. Jadi ini bukan saltik, memang tidak dibikin kapital saja semua sama mereka.

Kalimat tanya retorik.
Penegasan dari kalimat sebelumnya, akhiri pakai tanda tanya saja biar lebih kena.
Tidak apa, manusia memang tempatnya salah.

Penerjemahan

Sebenarnya, rilisan ini sudah oke karena memasukkan gaya bahasa santai dan kasual, tapi aneh rasanya menemukan kata “tak” pada dialog santai macam ini. Ganti saja dengan kata “tidak” atau “enggak”.

Meski dialognya itu “遊び “(dibaca: asobi), diterjemahkan “menemani” akan terasa lebih baik dan tidak terlalu mengubah maknanya.

Sama seperti di atas, tidak perlu diterjemahkan secara literal. Pakai saja kata “menyedihkan” atau “suram” sekalian biar lebih kena artinya.

Akhirnya ada fansub yang pakai kata “pengin”!
*Maap, saya yang katrok.
… cewek pelampiasan yang “bisa” dipakai kapan saja?!

Kalimatnya kurang terdengar familiar dan terasa kaku. Kalau tidak tahu konteksnya, rasanya agak janggal. Karang sedikit supaya kalimatnya terdengar lebih natural. Misalnya, “Jangan bilang begitu, menyendiri itu tidak asyik, lo!”

Kamu ini senang cari musuh, ya?
Kalimat ini sudah oke dan enak dibaca.
Bisalah dijadikan satu kalimat, biar lebih enak dilihat juga.
Okelah, lagian kata “spoiler” kalau diganti memang kurang kena, sih.
Kenapa gak dibikin miring? Kelupaan, ya?
Tuh, dialognya bisa kasual di sini. Bagus lagi!
Empat kalimat sekaligus?

Kesimpulan

  • Typeset cukup bagus dan enak dilihat.
  • Kata sapa “senior” seharusnya dibuat kapital.
  • Kalimatnya mayoritas sudah enak dibaca, tapi bisa lebih baik kualitas terjemahannya.
  • Gaya penerjemahan sudah baik, tidak kaku. Hanya saja harus lebih konsisten dan tahu kapan menggunakan gaya kalimat santai dan gaya kalimat baku.
  • Tidak ada karaoke di episode ini.

Tangkapan layar tambahan

Gambaran orang yang pinggangnya keseleo.
Ini kucing siapa sih, mukanya kayak ngajak kelahi aja!