Cicip Rilisan — [‽] Kakushigoto (Rahasia) – 12

Lagi kurang ide buat nulis, terus ada yang minta buat diicipin rilisan warungnya. Taraaa, jadilah pos nirfaedah ini.

Saya terlalu malas buat menulis kata pengantar, jadi langsung saja, yuk. Toh sudah tahu saya mau ngapain juga.

Typeset

Sangat standar, tapi ada. Beberapa diberi warna sesuai dengan visualnya, beberapa malah dibiarkan polos. Iya saya tahu dan bisa maklum karena ngerjain typeset satu-satu di kartun ini terlalu melelahkan.

Ada karaoke, ganti warna sesuai latar.
Baru sadar kalau yang dikasih efek itu terjemahannya, bukan lirik aslinya.
Font-nya sudah oke menurutku.
“Kita setiap hari” itu maksudnya apa, dah?
Typeset yang diberi warna.
Penulisan kata “di” tidak diberi kapital harusnya.
Tidak pakai tanda titik juga karena ini judul artikel.
Terjemahannya cukup menggambarkan pedasnya komentar warganet.
Local pride, huh?
Terjemahan judulnya harusnya bisa lebih oke.
Typeset panel komik, melelahkan memang.
Typeset judulnya ketinggalan, ya?

Kapitalisasi, Tanda Baca, dan Saltik

Saya tidak menemukan saltik di sini, baik kelupaan huruf, tanda baca, maupun spasi. Good job. Tapi ada beberapa poin yang bisa saya garis bawahi di sini.

Ini masih jadi perdebatan sebenarnya (setidaknya bagi saya). Kata “ayahku” di sini menurut saya harusnya tidak dikapital karena dia tidak sedang menyapa atau pun bicara langsung pada orang lain. Di sini dia sedang menceritakan tentang ayahnya dalam bentuk monolog. Hampir semua kata “ayahku” di sini ditulis seperti ini.

Kata “kabuki” dan “sensei” adalah istilah asing. Lebih baik kalau dibuat miring untuk menunjukkan kalau kata tersebut berasal dari bahasa asing (walau saya yakin 99,9% yang nonton sebenarnya sudah mengerti artinya).

Penerjemahan

Di sini mereka memakai gaya yang sangat lepas dan bebas pada mayoritas kalimatnya. Hal ini wajar mengingat ceritanya yang bertema komedi dan kehidupan sehari-hari. Tapi kesannya malah terasa agak nanggung. Untuk bagian ini, akan langsung saya komentari satu per satu saja.

Dibaca saja sudah terasa janggal.
“Usaha dikit, kek.”
“… kakek dari ibunya Hime.”
“… kakeknya Hime …” atau ganti saja dengan “beliau”
Sama kata “tak” itu agak kaku rasanya.
Dalam bahasa Indonesia ada istilah yang namanya “saudara tiri”, lo.
Tanda koma yang pertama itu enggak perlu.
“Cepat telepon ambulans!”
“telah dihentikan”
Kalau “dibatalkan” artinya enggak jadi, dong?
Nah, ini bisa benar penulisannya.
“… ibuku ingin kamu melihat isinya.”
Euy!
Diterima mengingat konteksnya.
Penyakit banyak fansub, kalimat tanya retorik.
Good.
Harus angkat jempol atas kreativitasnya.
“Pedes amat, Bang.”
Terlalu kaku, bisa dibikin lebih santai lagi.
“Bisa minta bantuanmu?”
Bolehlah.
Bisa juga pakai kata “lawakannya” atau “leluconnya”.
“Club” itu maksudnya stik pemukul golf. Terjemahan yang benar kemungkinan,
“Gimana kalau stik golfnya diganti sama jamur?”
Saya kembalikan ke selera masing-masing.
Huum.
Iya.

Kesimpulan

  • Sudah cukup berani untuk bereksperimen dalam menerjemahkan kalimat, sayangnya terasa nanggung. Hal ini karena dalam beberapa kalimat menggunakan kata-kata seperti “tak” atau “walau” yang terkesan agak puitis. Seharusnya pakai yang netral saja seperti “tidak” atau “meski” supaya sejalan sama beberapa kalimatnya yang bebas dan “nabrak” itu.
  • Terjemahan sudah cukup akurat artinya, tapi ada beberapa yang agak miss.
  • Typeset secukupnya, sudah menggambarkan konteks situasi.
  • Karaoke cukup niat, enak dilihat juga.
  • Lain kali nama berkasnya bisa pakai simbol yang wajar aja, enggak?! Ini punya Delsubs, btw.