Arknights CC#0 Diary: Day 9-10

Kurang tidur membuat saya absen sehari untuk memperbarui catatan harian ini. Untungnya, kali ini saya tidak lupa mendokumentasikan beberapa tangkapan layar terkait dengan hari kesembilan dan kesepuluh event ini berjalan.

Permanent Map Progress

Saya pun menjajal risk level 20 pada hari kesembilan (kalau tidak salah ingat). Strategi yang digunakan tidak jauh berbeda dengan yang sudah saya pakai sebelumnya saat menyelesaikan dua misi yang muncul di minggu kedua.

Harusnya Mytrle tetap di posisinya.

Dengan pemilihan contract yang seimbang, risk level 20 sebenarnya tidak terasa begitu sulit. Kalau boleh jujur, saya merasa masih bisa untuk “naik tingkat”, tapi mungkin saya cukupkan sampai risk level 20 sajalah. Susah memang kalau event “akbar” di dua gim barengan seperti ini.

Contract “aman” yang dipilih.

Sempat ada sedikit “drama” di wave terakhir karena tidak semua musuh laba-laba bisa ditangani oleh Projekt Red mengingat timing kemunculan mereka. Dengan tambahan kekuatan serangan yang cukup drastis, tidak heran kalau Nearl seketika langsung jadi almarhum di tempat begitu satu ekor laba-laba yang lolos meledakkan dirinya.

Day 9

Misi “menggunakan contract x” yang muncul di hari kesembilan meminta para pemain untuk menyelesaikan map hanya dengan empat operator saja. Makin lama kok saya merasa misi hariannya makin susah, ya? Kalau diimbangi dengan pemilihan contract yang “bijak”, sebenarnya bisa dilewati, kok. Cuma memang harus lebih banyak percobaannya saja.

Musuh yang bikin ngeri di map ini adalah leader. Ada dua macam leader di sini, satu bisa menyerang dari jauh (tidak akan maju saat sedang menyerang operator) dan yang satunya lagi menyerang dari dekat. Damage yang mereka hasilkan itu sangat mengerikan dengan konsekuensi mereka akan kehilangan HP-nya tiap detik. Kalau masih merasa terlalu mudah, coba saja ambil contract level tiga yang satunya lagi. Dengan tambahan HP dan damage yang signifikan untuk musuh bertipe leader, pemain harus menyiapkan operator dengan skill dan level yang cukup tinggi untuk menghadapinya. Yah, sebenarnya bisa diakali juga dengan pemakaian roadblock untuk mengubah rute musuh agar mereka menempuh jarak yang lebih jauh.

Untuk misi harian kali ini, saya menggunakan roadblock lebih banyak di bagian bawah agar tuyul-tuyul yang tidak mempan diblok itu datang dari arah depan Hoshiguma. Dengan begitu, Ch’en bisa membasmi mereka secara instan menggunakan skill miliknya saat skill Lappland belum siap. Warfarin dipilih untuk memberikan SP lebih cepat kepada operator yang ada di bawah dan menjaga agar Hoshiguma yang menjadi sasaran amuk leader pelempar lembing yang datang dari kiri-bawah bisa bertahan lebih lama. Timing skill yang baik sangat menentukan keberhasilan untuk membunuh semua musuh yang datang dan bertahan dari serangan para leader.

Sebenarnya saya hampir gagal saat tersisa satu leader terakhir di kiri bawah, tapi trik menempatkan roadblock bisa mengatasinya.

Kalau level Warfarin saya lebih tinggi, mungkin Hoshiguma bisa selamat di wave terakhir.

Day 10

Map traumatis yang keluar di hari kesepuluh ini sukses membuat saya pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, pemain diminta untuk menyelesaikan map—yang musuhnya kebanyakan adalah drone—ini dengan sebuah contract yang kejam. Meski pemain tetap bisa membawa seluruh tiga belas operator (sudah termasuk support), hanya empat operator saja yang bisa aktif di map tersebut! Alias, cuma bisa pakai empat operator!!! Terbayang jelas di benak saya kesulitan untuk menyelesaikan misi di hari kesepuluh ini. Musuh dengan drone sebanyak itu, tapi tidak bisa pakai operator dengan serangan jarak jauh.

Tidak pakai operator jarak jauh, jadi sekalian saja saya tambahkan risk-nya.

Sebelum menjajal map ini secara langsung, saya sempat melihat seorang pemain yang membagikan video strategi miliknya yang berhasil menyelesaikan map ini dengan risk level maksimal. Berbekal sontekan tersebut, saya pun langsung mencobanya. Tadinya saya masih “berusaha sendiri” dan hanya menjiplak susunan operatornya saja. Namun skill 3 dari SilverAsh dengan jeda selama satu setengah menit dan skill 3 Saria (yang hampir tidak pernah saya pakai) yang membutuhkan waktu delapan puluh detik, membuat saya kesulitan dalam mengatur timing untuk mengaktifkan skill mereka. Akhirnya saya putuskan untuk menyontek posisi operator beserta timing skill mereka saja. Ujung-ujungnya ya tidak bisa persis sama juga, sih.

Saking susahnya, saya kesulitan untuk menjelaskannya dengan kata-kata.

Menyontek strategi pemain lain tidak lantas membuat saya langsung berhasil menyelesaikannya. Saya sempat gagal saat tersisa satu musuh terakhir karena Lappland keburu K.O. dan skill Saria yang tidak siap. Saya pun mengulanginya dan kali ini menyiapkan Melantha untuk menghabisi musuh terakhir tersebut.

Sing penting beres.

Semoga misi di hari-hari berikutnya bisa lebih “manusiawi”.