Ulasan Event: FGO Battle in New York 2020

Event yang sudah lama saya tunggu hanya untuk mendapatkan sang Archer pujaan hati, Gilgamesh. Saint Quartz pun sudah tertampung cukup banyak untuk 10 x 10 tarikan demi mendapatkannya. Rupanya kesabaran saya untuk tidak nafsu menarik keberuntungan di banner gacha lain membuahkan hasil. Sang Raja Para Pahlawan datang ke akun saya dan itu pun tidak sampai membuat SQ saya ludes. Tentu saja saya langsung menaikkan semua levelnya secepat mungkin hingga maksimal. Rupanya saya lupa kalau ada beberapa quest tambahan yang harus diselesaikan untuk memperbarui efek dari skill ketiga Gilgamesh. Dengan sabar, akhirnya semua quest tersebut selesai dan Gilgamesh saya sudah siap untuk dipajang di slot Support kelas Archer.

Yap, itu tadi curhat singkat soal mendapatkan Gilgamesh. Tapi daya tarik event ini tidak hanya sebatas banner Gilgamesh saja. Lotto atau Lots alias sistem undian adalah magnet besar dalam event kali ini. Singkatnya, pemain mengumpulkan item “tiket” yang bisa dipakai untuk mengikuti undian. Diperlukan dua buah tiket untuk mendapatkan satu buah item secara acak di dalam satu kotak undian. Total ada tiga ratus buah item yang bisa didapatkan dalam satu kotak, isinya ada material, Mana Prism, EXP Card, Friend Point, hingga QP (alias mata uang dalam gim). Kotak undian ini bisa diisi kembali apabila pemain sudah mendapatkan seluruh isinya atau sudah berhasil mendapatkan “Hadiah Utama” (hanya berlaku untuk sepuluh kotak pertama). Pemain bisa terus-menerus mengikuti undian ini tanpa batasan selama memiliki tiket yang diperlukan.

Unlimited Farming Works adalah ungkapan yang tepat untuk ini. Tidak sedikit pemain yang membakar apel-apelnya untuk mengikuti undian yang tidak dibatasi jumlah reset-nya ini, termasuk saya. Saya sempat kaget saat melihat ada pemain yang membuat spreadsheet berisi analisis tingkat keefektifitasan farm dalam tiga giliran. Awalnya saya benar-benar tidak paham dengan isinya. Setelah dipelajari beberapa saat, dokumen tersebut ternyata sangat membantu saya agar bisa memanen item tiket ini dalam tiga giliran saja. Benar-benar mempermudah hidup!

Farm-nya mudah, tidak ada sistem map pula. Bukankah event ini terasa sangat menyenangkan? Oh, tentu saja tidak. FGO saya sebut sebagai gim paling bangsat seantero muka bumi bukan tanpa alasan. Masih belum hilang trauma saya saat menjajal Memorial Quest melawan Saber Alter (detilnya bisa lihat di sini), ternyata Exhibition Quest alias quest super susah di event ini jauh, jauh, jauh lebih menguji kesabaran dan kemasokisan para Master. Sama seperti pada event Nero Festival, pemain sebenarnya diberikan kartu Craft Essence (CE) spesial yang menambah serangan servant yang memakainya hingga dua kali lipat (efeknya bertambah menjadi 200% bila batas levelnya dibuka hingga maksimal alias limit break) serta menghidupkan kembali pemakainya dengan 1 HP yang bisa didapatkan sebagai hadiah utama dalam undian. Dengan kata lain, CE ini wajib dipakai bila ingin menyelesaikan Exhibition Quest mengingat jumlah darah musuhnya yang tidak masuk akal, mulai dari ratusan ribu, hingga jutaan.

Berikut saya ceritakan pengalaman-pengalaman bodoh saya karena mau-maunya menyelesaikan quest super sulit ini serta tangkapan layar saat berhasil menyelesaikannya.

Exhibition Quest 1: Tawara Touta

Kesal adalah kata yang paling sering saya lontarkan ketika berusaha menyelesaikan tantangan ini. Bagaimana tidak, Master nyaris tidak bisa menyerang Archer satu ini karena kartu-kartu yang “dikunci”. Tiap giliran, Tawara Touta akan memberi debuff yang mengunci salah satu dari ketiga jenis kartu yang digunakan servant untuk menyerang. Kalau sial, pemain tidak akan bisa mengelurkan Harta Mulia dari servant yang sudah siap karena jenis kartunya yang “sedang dikunci”. Sungguh menyebalkan, bukan? Yah, sebenarnya debuff ini datang dengan buff yang menguntungkan juga, tapi lebih banyak menyebalkannya! Selain debuff rese tadi, boss satu ini juga datang dengan buff permanen yang menambahkan serangan kartu Buster dan memberinya imunitas terhadap debuff (alias tidak mempan diberi debuff) saat darah satu setengah juta lapis pertama milikya berhasil dijebol.

Strategi paling efektif untuk menyelesaikan quest ini adalah … solo. Ya, duel satu lawan satu antara Juragan Beras dengan servant Lancer. Tak lupa juga membawa satu atau dua servant “pancingan”, siapa lagi kalau bukan St. George. Master pun disarankan menggunakan seragam dari Atlas Institute untuk mengatasi debuff dari musuh dan memotong cooldown skill servant yang dipilih sebanyak dua giliran. Karena tidak punya Lancer yang kuat untuk disuruh duel satu lawan satu, saya sih memilih main keroyok saja! Force close dan restart adalah jalan ninjaku. Yah, sebenarnya lebih gampang langsung tekan tombol menyerah dan mengulang dari awal sih, toh cuma memakan 1 AP (stamina) juga. Tapi kalau sudah mau menang dan tinggal sedikit lagi, rasanya ga rela kalau harus mengulang.

Servant yang “mengamuk” setelah terkena NP Juragan Beras.

Exhibition Quest 2: Leonidas

Pertandingan ekshibisi kedua, melawan Leonidas dengan tiga ratus prajurit Sparta miliknya. Ya, tidak salah baca, tiga ratus! Tenang, pertarungan selesai kalau Leonidas sudah kalah, jadi tidak perlu menghajar semuanya, kok. Leonidas di sini hanya dibekali HP sebanyak 220 ribu untuk lapis pertama dan 733 ribu untuk lapis kedua, tidak sebanyak Tawara kemarin yang mencapai tiga juta di lapis kedua. NP miliknya tidak membahayakan dan dia juga tidak memberikan debuff-debuff yang mengganggu. Hanya saja, Leonidas memiliki buff defense yang super tebal sehingga dia tidak akan bisa dikalahkan begitu saja. Para prajuritnya juga tidak bisa dianggap sepele karena mereka bisa menjadi ancaman bila tidak segera dihabisi. Selain mendapatkan buff dari sang pemimpin, mereka juga akan memberi debuff instan ketika terbunuh saat Leonidas mulai memasuki HP lapis kedua.

Membunuh para prajurit Sparta akan mengurangi efek buff defense milik Leonidas secara perlahan, sehingga strategi yang ideal adalah fokus membunuh mereka di awal. Servant dari kelas Saber dengan NP AoE menjadi kunci untuk mengurangi jumlah mereka sekaligus mencicil HP Leonidas secara perlahan. Selain itu, diperlukan juga kehati-hatian saat memasuki HP lapis kedua Leonidas karena debuff instan yang bisa mengancam servant yang membunuhnya. Setelah beberapa kali mengulang, saya merasa lebih nyaman meminjam Mordred ketimbang Altria Pendragon karena kecenderungan untuk mengeluarkan serangan critical yang lebih mudah. Saya juga sempat mencoba untuk menduetkan Ryougi Shiki (Saber) dengan Tamamo no Mae sebagai support, namun saya merasa kalau kombinasi ini kurang efektif dan terlalu lama untuk membunuh para prajurit tersebut.

Ketika “Anak Durhaka” lebih baik daripada “Bapaknya”.

Exhibition Quest 3: Okada Izo

Samurai dengan kelas Assassin ini jelas lawan yang sangat ideal bagi para Caster. Ya, akhirnya para Caster tidak lagi menjadi babu pendukung saja, tapi punya peran besar dalam menyelesaikan tantangan ini. Seperti yang kita tahu, mayoritas NP dari Caster papan atas tidak memberikan damage pada musuh dan hal itu sepertinya turut diamini oleh tantangan ini. Okada Izo datang dengan ketahanan terhadap damage dari NP hingga delapan puluh persen. Itu artinya, NP tidak akan memberikan damage yang signifikan terhadapnya. Selain itu, buff critical dan serangannya cukup berbahaya bahkan untuk servant kelas Caster yang seharusnya “lebih tahan” terhadap damage dari musuh kelas Assassin. Tiap awal giliran, Izo akan mendapat buff ketahanan terhadap tipe kartu yang terakhir menyerangnya. Selain itu, akan ada efek tambahan berdasarkan jenis buff yang diterima.

Hal ini membuat serangan critical menjadi satu-satunya cara untuk mengurangi darahnya secara signifikan. Selain itu, urutan jenis serangan juga memegang peran penting karena akan menentukan buff yang didapat oleh Izo. Pemain juga tidak bisa menyerangnya secara membabi buta karena harus bertahan dari serangan dan critical milik Izo yang cukup sadis. Untungnya, NP miliknya hanya menarget satu servant sehingga pemain bisa menjaga servant utamanya tetap hidup dengan menyiapkan seorang servant untuk dijadikan korban. Dengan demikian, Mash dan St. George adalah servant yang wajib dibawa karena keduanya memiliki skill Taunt yang bisa memaksa musuh untuk menarget mereka saja. Saya memerlukan beberapa kali mengulang karena critical Izo yang mengerikan dan ditambah dengan RNG jenis kartu yang didapat. Yes, it’s fricking RNG. Again. Always.

Hanya beruntung (?)

Exhibition Quest 4: Jaguar Warrior, Jeanner Archer, Nobunaga Berserker

Pertarungan keempat datang dengan memainkan sistem “field” alias medan (bukan nama kota). Tiga servant yang menjadi lawan kali ini akan mendapat keuntungan yang signifikan pada medannya masing-masing serta mendapat ketahanan permanen terhadap salah satu jenis kartu. Jaguar Warrior unggul di medan “hutan” dan tahan terhadap serangan dari kartu Quick, Jeanner Archer unggul di medan “perairan” dengan ketahanan terhadap serangan dari kartu Arts, dan Nobunaga Berserker unggul di medan “berapi” dengan ketahanan terhadap serangan dari kartu Buster. Efek dari medan tersebut akan aktif berdasarkan boss mana yang terakhir kali diserang. Sebagai tambahan, damage dari NP milik mereka akan berkurang secara signifikan apabila medan yang sedang aktif bukanlah yang menguntungkan mereka. Misalnya Nobu adalah yang terakhir kali menerima serangan, maka medan “berapi” akan aktif. Nobu akan mendapat ketahanan terhadap serangan dan peningkatan damage yang signifikan, tapi damage NP dari Jaguar Warrior atau Jeanne Archer akan berkurang drastis. Tidak sampai di situ, bila HP pada lapis pertama mereka jebol, mereka akan mengaktifkan dua efek medan sekaligus bila menjadi yang terakhir kali diserang! Sistem “field” ini sukses membuat pertarungan ini menjadi salah satu yang paling rumit meski HP mereka adalah yang paling sedikit dibandingkan dengan para boss di pertarungan sebelumnya.

Saya yakin kalian tidak akan sepenuhnya paham dengan penjelasan di atas. Intinya, mereka harus diserang secara bergantian. Sulit apabila pemain terlalu fokus untuk membunuh salah satunya saja. Selain itu, pemain harus memastikan agar efek medan yang menguntungkan mereka tidak aktif saat mereka mengeluarkan NP agar para servant yang sedang bertarung selamat dari terjangan NP tersebut. Harus diingat kalau masing-masing dari mereka memiliki ketahanan terhadap satu jenis kartu. Hal ini membuat damage dari kartu jenis Buster tidak akan efektif terhadap Nobu. Strategi? Yah, pilih saja boss mana yang mau dibunuh duluan, sambil diserang bergantian dan sabar menunggu kartu yang tepat.

Jeanne VS Jeanne.

Exhibition Quest 5: Caster of Midrash

Saya menyebut pertarungan ini sebagai pertarungan melawan lintah darat. Konsepnya sama seperti berutang alias pinjam uang, bisa menyenangkan, bisa menyebalkan juga. Menyenangkan karena pemain dipinjami uang alias diberikan berbagai buff yang menyenangkan. Buff ini bentuknya acak dan diberikan pada servant yang … acak juga. Menjadi menyebalkan karena ada bunga alias denda atau hukuman kalau buff pinjaman tadi tidak dikembalikan alias dipakai. Sudah paham maksud saya?

Untuk membunuh sang lintah darat dengan cepat, pemain akan memilih servant dari kelas Rider. Tapi para penagih utang dari sang lintah darat ini justru berasal dari kelas Assassin yang akan memberikan damage cukup besar pada servant Rider pemain. Belum lagi sistem pemberian pinjaman yang acak itu. Sungguh bikin pusing! Umumnya pemain akan menghindari penalti sebisa mungkin dengan menggunakan buff yang didapat sambil terus mengurangi tiga lapis HP sang pemberi pinjaman sedikit demi sedikit. Rider dengan NP yang menarget satu musuh menjadi pilihan utama serta satu atau dua servant untuk dijadikan tumbal dari NP sang lintah darat. Sisanya ya, mengandalkan keberuntungan saja mengingat buff yang didapat itu acak dan berharap tidak terkena penalti yang serius saat tidak mampu membayar pinjaman.

Pertarungan yang mengajarkan “pahitnya” terlilit utang.

Exhibition Quest 6: Myterious Heroine X Alter

Pertarungan keenam, pertarungan yang betulan bikin saya pening dalam artian sebenarnya, adalah balapan makan! Enam belas monster yang muncul bersama sang juara makan ini akan memberikan buff atau debuff kepada siapa pun yang “memakannya” alias membunuhnya. Tiap awal giliran, boss satu ini akan memakan salah satu monster yang ada di arena dan mendapat buff atau debuff, tergantung dari monster yang dimakannya, kecuali saat terkena debuff yang mengunci skill miliknya dan pada giliran saat dia menggunakan NP. Kelas Berserker miliknya otomatis membuat mayoritas servant tidak akan bisa bertahan tanpa adanya servant pendukung. HP pada lapis pertama miliknya sebesar 400 ribu sebenarnya tidak terlalu sulit untuk ditembus. Tapi pemain harus memilih fokusnya, antara menguras darah boss atau mencuri buff dengan membunuh monster yang ada.

Kesalahan yang membuat saya mengulang berkali-kali sampai kurang tidur dan sakit kepala adalah terlalu fokus untuk mencuri buff di awal sehingga servant saya tidak bertahan setelah HP lapis pertama miliknya tertembus. Hal ini fatal karena saat memasuki HP lapis kedua sebesar sepuluh juta itu, pemain harus bertahan mati-matian dari terjangan serangan normal dan critical sang juara makan yang meningkat hingga dua kali lipat. Buff mengerikan tadi datang dengan sebuah debuff yang membuatnya kehilangan dua juta HP setiap giliran. Sayangnya, debuff ini hanya akan aktif setelah beberapa giliran tergantung dari seberapa banyak monster yang berhasil dimakan oleh pemain. Maka dari itu, Cu Chulainn dengan skill Evasion dan Guts paling baik sangat ideal untuk menyelesaikan tantangan ini. Sudah tidak terhitung berapa kali saya mengulang dan terus mencoba hingga akhirnya berhasil. Bisa dibilang ini adalah pertarungan yang paling bikin saya frustasi sepanjang sejarah bermain FGO!

Double Cu can’t go wrong here!

Exhibition Quest 7: Servant Rush

Saat melihat jajaran servant yang menjadi lawan untuk pertarungan terakhir ini, saya sempat berpikir kalau ini akan menjadi yang paling horor dan mengerikan. Ternyata dugaan saya salah. Mereka memang datang dengan berbagai efek dan buff yang menyebalkan, jumlahnya ada tujuh, kelasnya beda-beda pula. Kalau salah satu dar mereka selain Nero Bride dibunuh, Nero akan langsung mengeluarkan NP. Mengerikan kalau dipikir sekilas.

Tapi saya memilih cara yang mudah, jiplak! Pada quest-quest sebelumnya, strategi menjiplak tidak banyak membantu bagi saya karena berbagai mekanik dan buff yang ada pada tiap quest. Meski tiap servant pada pertarungan ini memberikan buff atau efek yang aneh-aneh, HP mereka hanya satu lapis dan jumlahnya hanya beberapa ratus ribu saja. Hal ini membuat mereka dapat dibunuh dalam satu giliran bila kartu yang didapat mendukung. Karena itulah saya memilih strategi solo Cu Chulainn Alter. Selain memiliki skill Evasion dan Guts, serangan critical dan Buster miliknya dirasa cukup seimbang. Dengan timing skill yang tepat, strategi ini bisa berhasil. Meski sudah bermodal jiplak, nyatanya saya harus bereksperimen berkali-kali untuk mendapatkan timing skill yang tepat agar servant pinjaman ini tidak terbunuh akibat diterjang NP dari Nero Bride.

Ya, saya rasa sudah cukup kebodohan dan keniatan saya menulis artikel tidak bermanfaat sepanjang ini. Jujur, saya capek dan butuh berhari-hari untuk menyelesaikannya. Setelah ini niatnya mau mengulas kartun lama yang baru selesai saya tonton. Semoga niat saya bisa segera terwujud.